c333911f8585db87a0c1416e359f171f

Perang Mata Uang Dunia dan Peran Indonesia

1. Kondisi Perang Mata Uang Saat Ini

            Penggunaan istilah perang mata uang atau currency war pertama kali diperkenalkan oleh direktur pelaksana IMF yaitu Dominique Strauss-Kahn dan menteri keuangan Brazil oleh Guido Mantega. Dalam pernyataan menteri keuangan Brazil tersebut, ia menjelaskan bahwa negara-negara didunia saat ini tengah memasuki masa perang mata uang internasional. Dimana, perang mata uang ini dapat mengancam daya saing negara-negara didunia, terutama dalam hal perdagangan internasional.

Pada hari Sabtu, 16 Februari 2012, para  pemimpin keuangan dinegara-negara yang tergabung dalam Grup-20 atau G20 mendeklarasikan untuk tidak menargetkan nilai tukar mata uang negara-negaranya untuk tujuan kompetitif. Pesan ini sebenarnya ditujukan oleh negara Jepang yang terlalu gencar mendevaluasi mata uang Yen. Namun hal banyak pengamat yang meramalkan perjanjian tersebut tidak akan dapat dijalankan terutama oleh negara Jerman dan Prancis. Hal tersebut karena perbedaan kondisi surplus predagangan yang dialami kedua negara tersebut. Perang mata uang merupakan keadaan dimana negara-negara didunia berusaha untuk mendevaluasi mata uangnya agar dapat meningkatkan ekspor suatu negara sehingga daya saing produk ekspornya akan meningkat dan akan menurunkan daya ekspor negara yang mata uangnya sedang mengalami trend peningkatan.

Contoh klasik yang dapat menggambarkan perang mata uang antara negara didunia adalah antara China dan Amerika Serikat. Pemerintah China dapat dengan mudah mengatur mata uangnya karena cadangan devisa negaranya yang besar. Agar dapat meningkatkan daya saing ekspor negaranya China mengatur sebisa mungkin agar mata uang Yuan lebih rendah dari mata uang Dollar. Dengan begitu, saat ini ekspor China selalu menunjukkan trend meningkat ke Amerika Serikat maupun negara-negara lainnya. Hal ini tentu akan merugikan Amerika Serikat karena ekspornya ke China akan semakin menurun dan impornya meningkat dari China, sehingga banyak perusahan di Amerika Serikat yang gulung tikar.

Dari contoh klasik perang mata uang diatas kita dapat mengetahui bahwa dampak dari perang mata uang tersebut akan merugikan negara yang mengimpor dan menguntungkan bagi negara yang mengekspor. Dengan adanya persaingan antara China dan Amerika Serikat tersebut, maka Amerika Serikat tidak lagsung diam. Federal Reserve langsung mencetak uang dollar sebanyak-banyaknya sehingga dollar akan melemah. Dan pada saat yang bersamaan pemerintah Amerika Serikat memperketat persyaratan produk impor dan modal impor, khususnya dari China. Sehingga setiap investor akan diberikan bunga dan insentif yang tinggi jika ingin membeli obligasi di Amerika Serikat.

Lebih parah lagi, kebijakan yang dilakukan Amerika Serikat tersebut ternyata diikuti oleh negara-negara lainnya. Jepang mulai mengontrol pasar ekspor dan impor dengan menurunkan nilai Yen. Brazil juga menggandakan pajak beli obligasi negaranya oleh asing. Begitu juga dengan Thailand yang menarik pajak 15% bagi pembeli asing yang ingin membeli obligasi negaranya. Korea Selatan juga melarang bank meminjam dalam bentuk mata uang asing. Perang kebijakan pada mata uang yang dilakukan negara-negara didunia tersebut tentu akan saling merugikan, sehingga hubungan negara-negara didunia terutama yang menjadi mitra strategis perdagangan internasional akan rusak. Terutama negara yang bermitra strategis sebagai tujuan ekspor Indonesia seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang. Jika ketiga negara tersebut melakukan kebijakan yang serupa, maka produk ekspor dan modal ekpsor akan terpukul dengan pengetatan persyaratan yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.

2. Rekomendasi Kebijakan Yang Seharusnya Dilakukan Oleh Pemerintah Indonesia

Berbagai kebijakan yang telah dilakukan oleh negara-negara didunia untuk saling mengamankan negaranya dalam situasi perang mata uang seharusnya menjadi acuan bagi pemerintah agar melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu, pemerintah tidak boleh mengikuti tindakan yang telah dilakukan negara-negara dengan kebijakan memperketat aturan impor, tetapi pemerintah dapat melakukan diskusi bersama dengan negara-negar lain agar masalah perang mata uang yang terjadi saat ini dapat dicari jalan keluarnya berdasarkan kesepakatan bersama.

Selama ini, pemerintah sudah melakukan yang terbaik untuk ikut berpartisipasi dalam mencari solusinya, yaitu dengan mengikuti pertemuan G20 yang diadakan di Moskow, Rusia. Berdasarkan hasil pertemuan kelompok negara-negara industri besar tersebut, didapatkan keputusan bahwa setiap negara secara kolektif telah sepakan untuk tidak mengatur mata uang negaranya masing-masing. Menteri Keuangan Indonesia Agus Martowardoyo juga menegaskan bahwa bentuk komitmen Indonesia dalam adalah tidak melakukan proteksionisme produk impor dan intervensi nilai tukar. Nilai tukar seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada pasar.

Dampak lain yang harus diwaspadai oleh Indonesia adalah semakin banjirnya “uang panas” akibat dari perang mata uang tersebut. Perang mata uang yang terjadi saat ini tentu akan menjadikan mata uang asing yang masuk terutama ke Indonesia akan semakin murah. Sehingga banyak orang yang memegang mata uang asing di Indonesia. Uang panas yang ditanamkan pemodal asing di Indonesia kebanyakan merupakan modal dalam jangka pendek. Hal ini karena investor “uang panas” hanya bersifat sementara dan tentu akan beresiko tinggi. Negara-negara investor seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Negara-negara Eropa lainnya akan mencari negara-negara yang akan dirasa memiliki prospek yang bagus termasuk Indonesia untuk menjual modalnya dengan membeli mata uang asing negara tersebut karena nilai mata uangnya yang meningkat sehingga lebih menguntungkan.

Meningkatnya “uang panas” yang masuk ke Indonesia saat ini dapat dilihat dari jumlah capital inflow yang masuk ke Indonesia saat ini. Diperkirakan jumlah yang masuk ke Indonesia saat ini mencapai 825 miliar dollar Amerika Serikat, bandingkan dengan cadangan devisa indonesia yang 10 kali lipatnya yaitu sebesar 86,2 miliar dollar Amerika Serikat. Aliran capital inflow yang masuk ke Indonesia saat ini sudah menciptakan kelebihan uang bagi beberapa masyarakat Indonesia. Untuk beberapa tahun-tahun ini mungkin dapat dikatakan aman, namun jika terdapat negara lain yang akan memberikan insentif lebih besar selain Indonesia, maka akan menciptakan pecahnya gelembung modal yang masuk ke Indonesia tersebut. Bahaya akan timbul karena aliran modal yang telah masuk ke Indonesia akan keluar berlebihan dan akan menimbulkan capita outflow besar-besaran. Hal demikian sama seperti yang terjadi pada krisis Asia ditahun 1997.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya melakukan kebijakan intervensi yang tepat pada setiap modal yang masuk ke Indonesia. Distribusi modal yang tepat harus segera dilakukan agar modal yang masuk ke Indonesia dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Modal yang masuk juga diusahakan tidak hanya yang berjangka pendek, tetapi modal jangka panjang juga. Modal yang masuk ke Indonesia tidak hanya berhenti di pasar saham maupun obligasi saja, namun modal yang masuk dapat digunakan untuk membiayai pembangunan yang dibutuhkan seperti infrastruktur dan lain-lain. Sehingga modal yang dialirkan ke sektor riil dapat memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian nasional.

Sumber Data

www.bbc.co.id/101112_currencywarbattegrounds.shtml

www.vivanews.co.id/391340-menkeu–g-20-tolak-perang-mata-uang.htm

www.theglobal-review.com/content_detail.php.htm

www.seputarforex.com/forex.php.htm

www.antaranews.com/jerman-peringatkan-perang-mata-uang.htm

www.jurnaltoddopuli.com/PerangMataUangJurnalToddopuli.htm

www.jaringnews.com/perang-mata-uang-dunia-makin-memanas.htm

www.kompas.com/1605226.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s