mothersdaybig

KONTROVERSI KEBIJAKAN KONVERSI GAS OLEH PEMERINTAH DAN PREDIKSI INDONESIA IMPOR LNG DI TAHUN 2016

 

1. Latar Belakang

            Sampai saat ini Indonesia masih tergolong negara pengekpor LNG (Liquified Natural Gas) atau gas alam cair yang diekspor ke berbagai negara yang menjadi mitra utama ekspor LNG Indonesia, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan China. LNG Indonesia diproduksi oleh 3 kilang utama, yaitu kilang Arun di Aceh, Bontang di Kalimantan, dan Tangguh di Papua. Produksi kilang LNG terbesar adalah kilang LNG di Bontang, yakni sekitar 81,66 persen produksi LNG Indonesia. Kemudian disusul oleh kilang Arun sebesar 10,77 persen dan kilang Tangguh sebesar 9,62 persen dari total produksi LNG Indonesia.

Berdasarkan laporan dari International Gas Union, produksi LNG Indonesia di tahun 2011 merupakan yang terbesar ketiga didunia yang sebelumnya menduduki peringkat kedua setelah disalip oleh Malaysia. Hal ini dikarenakan menurunnya produksi LNG di dua kilang utama Indonesia yaitu Arun dan Bontang. Produksi LNG terbesar masih dipegang oleh Qatar, dan disusul oleh Malaysia, Indonesia, Australia, Nigeria, Trinidad, Algeria, Russia, Oman, dan Brunei.

Kebijakan pemerintah untuk mengkonversi penggunaan energi minyak dengan gas masih perlu untuk dipertimbangkan kembali. Hal ini didasarkan pada penurunan cadangan gas di kilang utama LNG di Indonesia, yaitu  kilang Arun dan Bontang. Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari, Indonesia akan menjadi negara pengimpor LNG pada tahun 2016. Dari pernyataan tersebut, kebijakan pemerintah tentang koversi energi ke gas dinilai sangat janggal karena jika produksi LNG sudah menurun, bagaimana pemerintah dapat memenuhi permintaan akan gas yang semakin meingkat saat ini?.

Terdapat tiga penyebab Indonesia akan menjadi negara pengimpor di tahun 2016. Pertama, penurunan produksi  LNG di dua kilang utama yakni Arun dan Bontang diakibatkan karena cadangan LNG di kedua daerah tersebut semakin berkurang. Bahkan, Presiden Direktur PT Arun mengatakan bahwa produksi LNG di Arun akan berakhir pada tahun 2014. Sedangakan yang kedua adalah, pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat pesat menyebabkan permintaan akan gas semakin meningkat. Hal ini semakin kontroversial jika mengaitkannya dengan kebijakan pemerintah untuk konversi energi dari minyak ke gas. Pada akhir-akhir ini pemerintah sangat gencar melakukan kebijakan pengendalian kuota BBM dimana salah satu caranya adalah konversi energi ke gas. Jika peningkatan jumlah penduduk dan permintaan terhadap gas dibiarkan saja oleh pemerintah, maka ketahanan energi Indonesia akan terganggu.

Penyebab yang ketiga adalah, pemerintah lebih cenderung mengutamakan kepentingan ekspor LNG dari pada pemenuhan kebutuhan domestik. Belum lama ini, pemerintah memutuskan untuk mengekspor LNG Tangguh yang sebelumnya untuk Sempra, AS ke Kogas dengan volume 16 kargo per tahun selama 2013-2016. Namun demikian, Pengamat energi dari ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto menilai kebijakan Pemerintah mengekspor gas alam cair dari Kilang Tangguh, Papua Barat ke pembeli di Korea Selatan, Korea Gas (Kogas) dipertanyakan. Pasalnya, kebutuhan gas di dalam negeri masih tinggi.Menurunya produksi LNG Indonesia karena menurunnya cadangan LNG di dua kilang utama LNG Indonesia dan permintaan yang semakin meningkat akan penggunaan energi gas merupakan permasalahan utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah, khusunya Kementerian ESDM agar ketahanan energi Indonesia dapat dijaga dengan baik.

2. Solusi Terhadap Permasalahan

            Dari ketiga permasalahan yang telah dijelaskan diatas, sudah seharusnya pemerintah untuk mencari solusi agar prediksi Indonesia akan impor LNG tahun 2016 dan gangguang terhadap ketahanan energi di Indonesia dapat diatasi. Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari, Indonesia menjadi negara importir LNG karena laju pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan oleh peningkatan produksi LNG. Selain itu, kebijakan konversi energi ke gas akan menjadikan gas menjadi sumber energi utama bagi masyarakat kedepan. Dengan demikian, besar kemungkinan jika pemerintah tidak segera mengatasi permasalahan tersebut, maka prediksi Indonesia menjadi negara importir LNG akan menjadi kenyataan.

Seperti diketahui, Indonesia sebagai produsen LNG terbesar kedua di dunia selama ini telah memasok produksinya ke beberapa negara. Baik itu melalui gas alam cair maupun gas pipa. Produksi LNG yang mencapai 8.800 juta kaki kubik per hari (mmscfd) kenyataannya tidak bisa diserap oleh pasar domestik. Hal tersebut seiring dengan infrastruktur yang minim pada saat Tanah Air memproduksi gas dengan besar-besaran pada tahun 1990-an. Hal tersebut memaksa pemerintah untuk menjual gas tersebut ke luar negeri.

Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari, pemerintah seharusnya menyusun kembali regulasi produksi energi yang lebih baik lagi. Menurutnya, pemerintah saat ini hanya fokus pada pendekatan sistem pragmatis. Pemerintah hanya mementingkan peningkatan produksi, tidak memperhatikan dan mengembangkan  penemuan-penemuan energi baru yang  dapat menggantikan penggunaan energi minyak yang selama ini tidak efisien karena harganya yang semakin mahal. Selain itu, menurutnya pemerintah juga perlu melakukan eksplorasi ke wilayah baru untuk menemukan energi.

Dari penjelasan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putohari, maka dapat dirumuskan beberapa solusi terkait mengatasi permasalahan di sektor energi Indonesia. Adapun solusinya sebagai berikut :

  1. Pemerintah harus meregulasi ulang segala kebijakan terkait sektor energi Indonesia, termasuk kebijakan tentang konversi energi ke gas. Hal ini karena pemerintah selama ini hanya memperhatikan dari segi pragmatisnya saja. Dimana, pemerintah hanya fokus pada peningkatan produksi, padahal cadangan energi di kilang minyak yang ada semakin berkurang.
  2. Pemerintah harus mulai mencari ladang sumber energi yang baru untuk meningkatkan produksi LNG dan dapat memenuhi kebutuhan nasional. Kilang LNG Tangguh yang baru dibuka ditahun 2009 di Papua masih belum cukup menanggung beban penurunan produksi LNG di Arun dan Bontang. Pemerintah harus lebih mementingkan kebutuhan domestik daripada harus diekspor ke luar negeri. Selama ini pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan ekspor LNG dari pada pemenuhan kebutuhan domestik. Padahal dari tahun ke tahun kebuthan domestik terus meningkat sebagai dampak dari peningkatan jumlah penduduk di Indonesia.
  3. Pemerintah harus mulai fokus pada pengembagan sumber energi yang lebih terbaharukan seperti panas bumi, matahari, angin, sumber energi lainnya. Sebagai contoh, energi panas bumi Indonesia memiliki cadangan 40% dari total panas bumi dunia. Namun, pengembangan energi tersebut masih belum cukup optimal dibandingkan negara lain seperti Filipina dan Amerika Serikat.

SUMBER

www.indocs.net.com/2016RIDiprediksiBakalImporLNGINDOCS.html

www.obornews.com/19807-berita-iagi_indonesia_akan_jadi_importir_lng.html

www.suarapembaruan.com/31789.htm

www.analisa.com/Analisa-ProduksiLNGArunBerakhir202014.html

www.liranews.com/berita-2066-indonesia-akan-menjadi-importir-lng.html

www.neraca.co.id/Ilmuwan.Perkirakan.RI.Akan.Jadi.Importir.LNG.html

www.infoAnyar.com/IndonesiaakanmulaiimporLNGtigatahunlagiInfoAnyar.com.html

www.okezone.com/OkezoneEconomy-2016,RIDiprediksBakalImporLNG.html

www.inilah.com/indonesia-akan-impor-lng.html

www.merdeka.com/indonesia-akan-mulai-impor-lng-tiga-tahun-lagi.html

www.tambang.co.id/MAJALAHTAMBANGONLINETAMBANGTODAYTahun2016IndonesiaTerancamMenjadiNegaraImporEnergi.html

www.okezone.com/skk-migas-produksi-lng-awal-tahun-ini-turun.html

www.surabayapost.com/SurabayaPostOnline.html

PDF

World LNG Report 2011 oleh Internatioanl Gas Union dan Petronas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s