Kiev

FAKTOR-FAKTOR DARI STRUKTUR EKSPOR PADA NEGARA-NEGARA EROPA TENGAH DAN TIMUR

By

Bernard Hoekman Dan Simeon Djankov

Pertumbuhan ekspor Eropa Tengah dan Timur ke Eropa Barat membuat pasar yakin bahwa para pengusaha telah merespon untuk mengubah pandangan dengan membangun produksinya untuk beralih ke pasar yang baru. Menyusul dihentikannya rencana utama, negara-negara Eropa Tengah dan Timur telah mengalami guncangan ekonomi yang berat. The Council of Mutual Economic Assistance (CMEA), dimana telah mengatur perdagangan internasional antara negara-negara yang menjadi anggotanya, gagal ditahun 1989. Sejak itu, para analis dalam jumlah yang signifikan telah melakukan investigasi pengembangan dalam perdagangan negara-negara Eropa Tengah dan Timur.

Literatur ini menampilkan fakta model yaitu: pertama ekspor dari negara-negara Eropa Tengah dan Timur ke negara-negara di Eropa Barat telah tumbuh dengan cepat. Kedua, komposisi ekspor telah berubah secara relatif. Ketiga, pertumbuhan share dari perdagangan antara negara-negara Eropa Tengah dan Timur dan Uni Eropa adalah intra-industri, dimana hal ini menunjukkan perubahan yang sama pada produk. Keempat, perpindahan investasi asing langsung (FDI) dikonsentrasikan pada sektor spesifik dan negara-negaranya. Negara-negara Visegard (Hungaria, Polandia, dan Republik Cekoslovakia) telah menarik lebih dari 80 persen dari semua FDI kedalam regional (European Bank for Reconstruction and Development 1996). Literatur survei Baldwin (1994) dalam percobaan untuk menjelaskan secara luas volume dan petunjuk perdagangan akan mengubah satu transisi ke ekonomi pasar yang sempurna. Analisis ini biasanya didasarkan pada data historis dari pola perdagangan sebelum perang dunia ke dua atau gravitasi model perdagangan.

Dalam artikel ini kita akan mengaalisis besarnya perubahan dalam struktur ekspor negara-negara Eropa Tengah dan Timur. Kita akan menginvestigasi pentingnya proses (subkontrak) perdagangan, impor dari input, dan FDI sebagai faktor dari performa ekspor di pasar Uni Eropa. Kita akan melakukan analisis statistik untuk menjelaskan dimana variabel yang tergabung dalam komposisi ekspor negara selama tahun 1990-1995. Bagian I akan menjelaskan singkat fakta model untuk performa perdagangan negara-negara di Eropa Tengah dan Timur sejak tahun 1990, termasuk menjelaskan perubahan komposisi ekspor. Bagian II akan didiskusikan kemungkinan hubungan antara subkontrak atau proses perdagangan, impor dari input secara umum, dan FDI dan menguji perubahan struktur ekspor negara ini. Bagian III melaporkan hasil estimasi. Bagian IV adalah kesimpulan.

I. REORIENTASI DAN PERUBAHAN PADA EKSPOR

Sangat sulit untuk mendapatkan data akurat pada arus perdagangan selama periode 1990 karena tingginya perubahan nilai tukar dan meratanya perdagangan barter. Hingga akhir tahun 1980an, banyak negara-negara di Eropa Tengah dan Timur berdagang secara luas dengan satu dan lainnya dan dengan Uni Soviet. Sebagai catatan, Republik Ceko dan Republik Slovakia berpisah ditahun 1993 dari sebelumnya satu negara yatu Cekoslovakia. Untuk menganalisa, kita dapat mengacu pada isi dari tabel 1, dimana terdapat 8 negara Eropa Tengah dan Timur yang menjadi objek analisis yaitu Albania, Bulgaria, Republik Ceko, Cekoslovakia (untuk tahun dibawah 1993), Hungaria, Polandia, Rumania, dan Republik Slovakia. Hasil total ekspor di tahun 1996 memberikan hasil Polandia memiliki hasil yang paling besar dengan total ekspor sebesar 22,8 (Billion USD) dan terendah adalah negara Albania 0,3 (Billion USD). Untuk pertumbuhan ekspor tertinggi dalam jangka panjang ditahun 1990-1996 adalah Bulgaria sebesar 13,4 persen dan terendah adalah negara Albania sebesar 3,9 persen. Sedangkan dalam jangka pendek ditahun 1993-1996 negara terendah pertumbuhannya adalah Hungaria (14,3 persen) dan tertinggi oleh negara Slovakia (34,0 persen).

Dari segi share ekspor ke rencana pusat ekonomi terdahulu pada tahun 1990 tertinggi adalah Cekoslovakia (44 persen) sedangkan terendah adalah negara Bulgaria. Ditahun 1993 dan 1996 masing-masing memberikan hasil yang sama yaitu tertinggi adalah Republik Slovakia dan terendah adalah Albania. Untuk share ekspor ke negara-negara Eropa Barat, diatahun 1990 negara yang tertinggi adalah Polandia (51 persen), dan terendah adalah negara Rumania (36 persen). Sedangkan ditahun 1993 terdapat dua negara yang tertinggi, yaitu Albania dan Polandia dengan share sebesar 70 persen, dan terendah masih oleh negara Rumania sebesar 40 persen. Dan ditahun 1996 negara dengan share ekspor tertinggi ke Eropa Barat adalah Albania (82 persen) dan terendah adalah Republik Slovakia (47 persen).Fenomena yang sama terjadi pada sisi impor. Negara pembanding seperti Indonesia, Meksiko, Maroko, Spanyol, dan Turki memiiki koefisien korelasi dalam rentang 0,7-0,8 dalam periode perbandingan (U.N. COMTRADE data base). Hampir semua negara Eropa Tengah dan Timur mengalami perubahan pada ekspornya ke Uni Eropa daripada ekspor ke dunia selama 1993-1995.

Pada hampir semua negara, beberapa 70 hingga 80 persen dari total impor berasal dari Eropa Barat (IMF, Statistik Perdagangan). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap negara memiliki spesifikasi dimasing-masing sektor dan terjadi di hampir di 8 negara, yaitu Albania, Bulgaria, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Rumania, dan Republik Slovakia.

Untuk mengetahui pergeseran pada petunjuk perdagangan dihubungkan dengan perubahan komposisi ekspor maka akan dijelaskan dengan RCA (Revealed Comparative Advantage) karena merupakan cara termudah untuk menginterpretasi ukuran pada perubahan dalam struktur ekspor. RCA adalah share dari komoditas dalam total ekspor relatif negara pada rata-rata share untuk dunia. Pada tabel 2 dapat dilihat hasil analisis RCA terhadap kedelapan negara yaitu Albania, Bulgaria, Republik Ceko, Cekoslovakia (untuk dibawah tahun 1993), Hungaria, Polandia, Rumania, dan Republik Slovakia. Hasil analisis akan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu berdasarkan koefisien korelasi dari RCA pada level 2 digit, koefisien korelasi dari RCA pada level 4 digit, dan indeks Herfindahl untuk konsentrasi ekspor. Dan untuk tujuan ekspor dibagi menjadi 2 tujuan yaitu Dunia dan Uni Eropa.

Untuk koefisien korelasi RCA pada level dua digit, pada tahun 1990-1992 untuk tujuan dunia, nilai koefisien korelasi RCA tertinggi adalah Polandia (0,88) dan terendah adalah Albania (0,54). Sedangkan untuk tujuan Uni Eropa, nilai tertinggi adalah Hungaria (0,95) dan terendah adalah Albania (0,54). Untuk tahun 1993-1994 nili koefisisen korelasi RCA tertinggi adalah Polandia (0,96) sedangkan terendah adalah Albania (0,44) dengan tujuan dunia, sedangkan untuk tujuan Uni Eropa tertinggi adalah Hungaria (0,96) dan terendah adalah Albania (0,36). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Polandia dan Hungaria maisng-maisng memimpin nilai di tujuan ekspor yang berbeda sehinga Polandia punya keunggulan komparatif porduksi di tujuan ekspor dunia dan Hungaria di Uni Eropa. Sedangkan Albania memiliki nilai terendah disetiap tahun dan tujuan sehingga tidak punya keunggulan komparatif di produk ekspornya baik ekspor ke dunia maupun Uni Eropa.

Untuk koefisien korelasi RCA pada level 4 digit, di tahun 1990-1992 dengan tujuan ekspor Uni Eropa, nilai tertinggi adalah Hungaria (0,88), sedangkan untuk nilai terendah adalah Bulgaria (0,28). Untuk tahun 1993-1995, nilai tertinggi adalah Hungaria (0,89) sedangkan nilai terendah adalah Rumania (0,32). Berdasarkan hasil tersebut, Rumania memiliki keunggulan komparatif di berbagai tujuan ekspor dibandingkan negara lainnya, sedangkan Bulgaria dan Rumania tidak memiliki keunggulan komparatif di tahun yang berbeda. Indeks Herfindahl mengukur konsentrasi yang dianjurkan untuk komposisi ekspor dari semua negara menjadi lebih spesifik selama tahun 1990-1995 (Tabel 2). Kecuali Rumania, yang memiliki nilai tertinggi karena kegagalan pada ekspor produk minyak. Korelasi yang tinggi antara perubahan struktur ekspor ke Uni Eropa dan juga dunia (dimana pada bagian yang luas menggambarkan share yang besar dari total ekspor ke Uni Eropa) menunjukkan bahwa kemunkginan kecil akan berkurang dengan terbatasnya analisis pada perdagangan dengan Uni Eropa.

II. FAKTOR-FAKTOR POKOK YANG MUNGKIN MERUBAH KOMPOSISI EKSPOR

Peningkatan pada perdagangan intra-industri menyertai perubahan antara petunjuk dan komposisi ekspor. Seperti perdagangan intra-industri secara vertikal mungkin akan lebih penting dari pada merubah hal yang sama tetapi dengan produk yang berbeda, khususnya dalam tingkat awal yang sama dari transisi. Literatur perdagangan menggunakan pandangan perdaganagn intra-industri vertikal yang menjadi gambaran pertukaran intra-industi bilateral dari produk yang sama dimana nilai unit ekspor dan impor melbihi ambang batas. Ukuran perdagangan intra-industri horizontal menggambarkan arus perdagangan bilateral dalam klasifikasi komoditas yang sama dimana nilai unit adalah dibawah ambang batas.

Share dari intermediate input dan capital good dalam total impor dari Uni Eropa adalah pada rentang 55 hingga 65 persen untuk Bulgaria, Hungaria, Polandia, dan Rumania. Untuk Ceko dan Republik Slovkia sebesar 80 persen. Di Hungaria dan Polandia pertumbuhan impor dari capital good sangat kuat, meningkat dari 12 dan 16 persen dari total impor Uni Eropa di tahun 1990 hingga 20 dan 30 persen, berturut-turut ditahun 1995. Jumlah capital goods untuk 30 persen dari total Ceko dan Slovakia impor dari Uni Eropa. Albania tetap menjadi yang terendah share dari capital goods-nya dalam impor.

Join ventures adalah alternatif untuk FDI. Kunci pembeda adalah bahwa joint venture menyatakan tidak mengontrol modal yang diberikan oleh partner asing. Walaupun beberapa joint venture telah dibangun antara perusahaan di Eropa Timur dan Tengah dan Barat, data yang komprehensif tidak tersedia. Aliran FDI ke Eropa Timur setelah 1989 lebih terkonsentrasi pada spesifik negar dan sektor. Hungaria sendiri menghasilkan lebih dari 50 persen total stok dari aliran kedalam FDI di regional ditahun 1995. Kelebihan FDI diberikan pada jasa (distribusi, pariwisata), teatapi ntara dua hingga lima dan tiga hingga hingga lima dari total diberikan ke industri.

Impor dari intermediate input dan capital goods mungkin terjadi juga lewat outward processing trade (OPT). OPT atau perjanjian subkontrak, memberikan hubungan yang luas dengan perusahaan asing dan mungkin kesempatan untuk transfer teknologi, khususnya teknologi ringan. Uni Eropa mengumpulkan statistik pada OPT, dimana kebanyakan merupakan subkontrak. Tarif di Uni Eropa memberikan insentif untuk menggunakan OPT yang dianjurkan. Pada banyak produk industri, tarif nol atau tak berarti untuk exportir Eropa Tengah dan Timur sebagai hasil dari perjanjian di Eropa.

Pada bagian III akan dianalisis pentingnya tiga variabel OPT, impor dari input pada umumnya, dan FDI sebgai faktor pengamatan struktur ekspor. FDI, joint venture, dan subkontrak mugkin semua akan disatukan untuk dibesarkan atau dikurangi lebih luas dengan meningkatkan impor pada input. Walaupun kontrol pada FDI, tidak memungkinkan juga pada joint venture dan subkontrak, walaupun untuk beberapa subkontrak diambil oleh OPT.

III. HASIL ESTIMASI

Pada bagian ini akan diteliti hubungan antara perubahan struktur ekspor dan OPT, impor dari input secara umum, dan FDI. Dependent variabel adalah level RCA pada perdagangan Eropa untuk 23 industri dalam tahun 1990-1995. Kita menggunakan RCA dari pada share komoditas dari total ekspor untuk setiap negara karena kontrol RCA untuk mengubah antara permintaan oleh Uni Eropa untuk komoditas dan penawaran oleh dunia.

Kita dapat menetapkan pada level dua digit dari International Standard Industrial Classification (ISIC). 23 sektor terpenting pada chapter D dari ISIC adalah : makanan, tembakau, tekstil, pakaian, kulit, produk kayu, kertas, percetakan, produk gas dan minyak,, bahan kimia, karet dan plastik, produk nonlogam lainnya, logam dasar, produk logam, mesin-mesin, peralatan kantor dan komputer, mesin listrik, radio, televisi dan alat komunikasi, obat dan instrumen penelitian, kondaraan motor, peralatan transportasi, pabrik lainnya dan pengolahan.

FDI dan IMP tidak spesifik untuk Uni Eropa dalam pengertian bahwa FDI atau impor intermediate dilarang oleh Uni Eropa sendiri. OPT adalah sebagai defenisi subset dari ukuran IMP (koefisien korelasi sederhana antara dua variabel adalah 0,43). (korelasi sederhana antara OPT dan FDI mengusulkn bahwa ini variabel tidak berkorelasi). Dalam tujuan untuk mengurangi standar eror dari parameter estimasi koefisien, pertama yang dilakukan adalah meregresi variabel IMP pada OPT. Menggunakan square paling rendah pada penyatuan data tepat jika nilai parameter biasa untuk semua industri dan semua waktu. Dengan uji-F menolak hipotesis sebagai intersep. Dengan begitu mengikuti pendekatan standar panel, menggunakan square terendah untuk mengestimasi efek model secar acak.

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa efek industri spesifik berbeda selama periodenya dan jarak industri; akan mengancam efek sebagai variabel acak pada pengertian bahwa diasumsikan menjadi gambaran dari distribusi yang diberikan setiap tahunnya. Sebagai alternative adalah menggunakan model tetp, dimana kita mengasumsikan bahwa efek industri spesifik adalah parameter tetap selama waktunya. Pilihan antara model efek tetap dan acak dalam situasi sekarang masih belum jelas. Spesifikasi uji Hausman menyarankan baik model efek tetap atau acak dapat digunakan. Model efek tetap secara biaya menghubungkan tingkat kebebasan. Dalam kurngannya informasi kita dapat meyakinkan secara tepat terhadap ancaman efek spesifikasi industri sebagai variabel acak.

Terdapat 23 sektor observasi selama 6 tahun (1990-1995) untuk Bulgaria, Hungaria, Polandia, Rumania dan 3 tahun untuk (1993-1995) untuk republik Ceko. Untuk sampel secara keseluruhan, termasuk dummies tahunan tetapi tidak sektor dummies, baik IMP dan OPT secara stastistik signifikan, sementara FDI tida ada. Bagaimanapun, tingkat signifikan variabel FDI menurun tajam, menunjukkan bahwa FDI berkorelasi dengan sektor spesifik. Dari 23 sektor dummies, hanya lima secara statistik signifikan pada level 0,99. Dua yang positif adalah (logam dasar dan kantor dan mesin komputer); tiga lagi negatif (mesin listrik, mesin motor, dan radio, televisi, dan peralatan komunikasi). Pada satu dua tiga sangat kecil dari FDI, sementara tiga terakhir secara umum menaik share utama dari total pabrik FDI. Besarnya dan signifikan dari koefisien pada OPT dan IMP tidak dipengaruhi oleh memasukan sektor dummies, diasumsikan bahwa tidak digerakkan oleh kekuatan sektor spesifik.

Hasil regeresi dari negara individu menggambarkan perbedaan utama dalam kepentingan relatif dari OPT, FDI, dan IMP (Tabel 5). Regresi dari negara dicoba termasuk dummies tahunan untuk mengontrol guncangan yang mempengaruhi semua sektor dalam ekonomi tetapi tidak termasuk sektor dummies karena negara-negara tidak cukup bebas. Pada level negara, OPT signifikan hanya pada Republik Ceko dan Rumania. FDI secara statistik signifikan dan negatif pada Bulgaria dan Hungaria, dan tidak cukup pada Republik Ceko dan Rumania, dan singifikan dan positif pada Polandia. Negatif signifikan pada variabel FDI mengindikasikan bahwa investasi bergerak ke industri dimana menjadi host negara yang tidak memiliki gambaran keuntungan komparatif. Hanya Polandia yang dlihat FDI menjadi bagian dengan aktivitas tradisional ekspor. IMP, atau integrasi sejauh ini merupakan yang terpenting menjelaskan variabel untuk empat negara. koefisien estimasi adalah bagian dari Rumania. OPT, FDI, dan IMP menghasilkan 50 persen dari variasi dalam variabel dependen untuk Hungaria dan Rumania. Dalam membuat jalur dari tipe yang digunakan disisni, kekuaan penelitian cukup reaistis.

IV. KESIMPULAN

Walaupun secara rata-rata relatif kecil perubahan yang terjadi pada komposisi dari ekspor Eropa Tengah dan Timur antara 1990 dan 1995, dimana semua negar aberbeda secara signifikan. Hungaria ternyata pengekspor terbesar pada produk yang sama, sementara yang lainnya Bulgaria dan Rumania berubah signifikan komposisi ekspornya, terutama tujuan Uni Eropa. Kita menemukan bahwa impor input tinggi korelasinya dengan komposisi ekspor. Dimana hanya kecuali ‘(Polandia), FDI negatif korelasi dengan negara tuan rumah RCA dalam industri secara statsistik sginifikan. Di Hungaria, sebagai bagian, investor asing ternyata mengambil bagian modal pada sektor yang tida memiliki keungguln komparatif di pasar Uni Eropa. Dan, dengan pengecualian Rumania, kita menemukan aktivitas OPT selama dimana perusahaan di Eroa Tengah dan Timur memproses komponen yng didapat dari partner usaha Uni Eropa dan kembali ekspor ke Uni Eropa merupakan faktor yang tidak signifikan.

Tentu saja, FDI terkonsentrasi pada sektor dimana Eropa Tengah dan Timur tidak menggambarkan keunggulan komparatif : dalam kasus pada Bulgaria, Republik Ceko, dan Hungaria. Dari kelima negara dimana data tersedia, Polandia adalah satu-satunya yang berhubungn positif signifikan antara FDI dan RCA. Hubungan negatif antara FDI dan RCA pada banyak negara menunjukkan bahwa FDI dapat menjadi kekuatan perubahan investor asing harus mengetahui konsentrasi industri untuk dapat bergerak dalam jangka menengah, dan selama jangka waktu FDI akan memimpin perubahan terbesar dalam komposisi ekspor negara. Kemudian, FDI sebagai pelengkap usaha, oleh industri domestik untuk membangun da meningkatkan faslitas produksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s