ilustrasi_utang_100525213347

SURAT UTANG NEGARA (SUN) YANG SEMAKIN BESAR DAN EFEKTIFITASNYA DALAM PEMBIAYAAN DEFISIT APBN

1. Penerbitan Utang Sudah Mencapai 82,77 Triliun Rupiah

Menurut sumber data terakhir dari data penerbitan obligasi sampai akhir 2013, pemerintah telah menerbitkan berbagai jenis Surat Berharga Negara atau SBN sebesar Rp 82,77 Triliun. Dengan jumlah utang sebesar itu, maka surat utang negara telah mencapai 45,87 persen dari target pemerintah dalam APBN yaitu sebesar Rp 180,439 Triliun. Selain itu, mengutip data yang diterbitkan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sabtu (18/5/13), hingga 30 April 2013, penerbitan SBN secara netto telah mencapai Rp82,771 triliun.

Secara lebih rinci, penerbitan SBN tersebut dibagi menjadi dua jenis, jenis pertama adalah Surat Utang Negara atau SUN dengan kapitalisasi sebesar Rp 64,800 Triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan kapitalisasi sebesar Rp 22,048 Triliun. Jika lebih rinci lagi, Surat Utang Negara atau SUN dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu Obligasi Negara dengan kapitalisasi sebesar Rp 53 Triliun dan Surat Perbendaharaan Negara atau SPN dengan kapitalisasi sebesar 11,8 Triliun. Sementara untuk SBSN sendiri hanya terdiri dari satu jenis saja, yaitu Surat Berharga Syariah Nasional Domestik. Surat Berharga Negara Domestik dapat dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu Project Based Sukuk (PBS) dengan kapitalisasi sebesar Rp 7,08 Triliun dan SPN-S dengan kapitalisasi sebesar Rp 14,968 Trilun.

Selain itu, menurut Wakil Menteri Keuangan Mahendra, mengatakan penerbitan obligasi negara ini harus menjadi perhatian pemerintah, apalagi selama ini surat berharga negara menjadi salah satu sumber pembiayaan belanja subsidi energi, termasuk BBM. Pemerintah menetapkan defisit anggaran sebesar 2,5% dari PDB dalam RAPBN-Perubahan 2013 atau lebih tinggi dari asumsi defisit anggaran dalam APBN sebesar 1,65% terhadap PDB. Upaya yang dilakukan untuk menekan defisit anggaran tersebut antara lain melakukan pemotongan belanja Kementerian Lembaga, menerbitkan surat utang dan menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Robert Pakpahan mengatakan adanya kemungkinan untuk menambah pembiayaan melalui penerbitan surat utang negara sebagai upaya menahan defisit anggaran. Namun, berdasarkan keterangan dari Mahendra, sebagian besar merupakan penerbitan obligasi domestik.

2. Permasalahan Penerbitan SUN

Menurut Wicaksono (2011) hutang melalui penerbitan surat utang negara memang cara yang banyak ditempuh negara di dunia untuk mengatasi permasalahan yang bersifat periodik. Utang memang cara yang ampuh dalam mengatasi defisit. Dengan alasan menjaga stabilitas kurs, maka hutang dalam bentuk mata uang asing juga menjadi senjata yang cukup ampuh. Kekhawatiran akan muncul bila pemerintah sudah terbuai dengan kemudahan menerbitkan senjata berupa utang apabila mengalami desifit keuangan. Dengan adanya pemikiran yang demikian, maka akan semakin menutup pemikiran-pemikiran dalam mencari peluang pemecahan masalah deifisit keuangan. Tentu saja kemalasan berfikir tersebut karena kenyamanan dalam berhutang.

Berdasarkan hasil penelitian Siahaan (2010), tingkat imbal hasil global MTN Indonesia lebih mahal 6-7 persen dari pada negara-negara di kawasan Asia lainnya. Sebagai pembanding, imbal hasil surat utang Filipina hanya 5 persen untuk masa jatuh tempo sepuluh tahun. Obligasi Malaysia bahkan hanya 3,3 persen dengan tenor lima tahun. Sedangkan Korea imbal hasil surat utangnya hanya 4,6 persen. Dengan hasil demikian, imbal hasil Surat Utang Negara atau SUN dinilai terlalu mahal. Akan tetapi menurut pemerintah, imbal balik surat utang Indonesia lebih mahal dibandingkan negara-negara Asia lainnya dikarenakan country risk Indonesia lebih tingi. Sehingga wajar dalam hal ini berlaku konsep High Risk High Return dan sebaliknya Low Risk Low Return.

Selain itu, permasalahan kedua berkaitan dengan permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagaimana diketahui bahwa upaya Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga kredit melalui penurunan BI Rate belum mendapat respons dari dunia perbankan dalam bentuk penurunan suku bunga kredit. Karena lambannya penurunan suku bunga kredit inilah, maka Bank Indonesia menempuh jalan dengan membuat kesepakatan dengan perbankan menurunkan suku bunga kredit. Diharapkan dengan adanya kesepakatan tersebut, akan memberikan efek positif bagi penurunan suku bunga kredit, sebab dengan bunga dana (deposito) yang lebih rendah diharapkan, bunga kredit juga akan turun. Setelah berjalan ternyata kesepakatan tersebut belum berjalan secara efektif. Diduga lambannya penurunan suku bunga kredit sebagai akibat masih tingginya yield atas SUN. Menurut hasil analisis yang dilakukan Bank Indonesia, tingginya yield obligasi pemerintah atau SUN dan obligasi konvensional dinilai telah mengurangi masuknya dana-dana masyarakat ke industri perbankan.

Apabila suku bunga atas SUN cukup tinggi, maka hanya akan menguntungkan investor baik domestik maupun asing, tetapi justru dunia usaha, khususnya usaha kecil, yang akan menanggung akibatnya. Sebaliknya apabila suku bunga atas SUN rendah, maka daya serap pasar akan rendah, tetapi sebaliknya rendahnya suku bunga ini akan mampu mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Di sinilah perlunya sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal. Dari sisi moneter, Bank Indonesia diharapkan berhati-hati dalam mengendalikan BI rate, jangan sampai kebijakan penetapan BI rate justru akan membuat investasi pada sektor riil akan semakin tersendat (Makmun, 2010).

3. Efektifitas Penerbitan SUN

Berdasakan hasil penelitian Siahaan (2010) ukuran efesiensi pasar keuangan biasanya dibagi menjadi tiga, yaitu berkaitan dengan keterbukaan (transparansi), berkaitan dengan biaya transaksi dan berkaitan dengan peringkat kredi dari lembaga-lembaga pemeringkat Internasional. Masalahan keterbukaan atau transparansi dalam pasar modal adalah diukur dari ketersediaan informasi sejak pasar perdana hingga pasar sekunder. Artinya semua pelaku pasar memiliki akses yang sama terhadap informasi, dapat diperoleh dengan mudah, tanpa biaya, tepat waktu, dan akurat. Dari kemudahan mendapatkan informasi akurat, lengkap, dan tepat waktu melalui (www.dmo.or.id) dapat disimpulkan bahwa pasar obligasi atau keuangan Indonesia sekarang ini sudah cukup efisien.

Ukuran efisiensi pasar obligasi juga dapat diukur melalui sudut biaya transaksi memasuki pasar perdana dan biaya pasar sekunder. Efisiensi pasar surat-surat utang negara dapat diukur melalui Surat Utang Negara dalam bentuk mata uang rupiah, SUN dalam bentuk mata uang asing (valas), dan peringkat utang Indonesia saat ini. Dilihat dari SUN dalam bentuk rupiah, walaupun cost of capital SUN masih tinggi dibandingkan negara lain, namun telah terjadi trend penurunan sehingga akan lebih efektif. Dari segi SUN dalam bentuk valas juga bertambah baik atau cost of capital semakin menurun. Selain itu, berdasarkan hasil terakhir dari lembaga-lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch, Standard and Poor`s, dan Moodys pada tahun 2011 telah menaikkan peringkat utang Indonesia dan memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Dengan begitu, kepercayan Internasional kepada efektifitas Surat Utang Negara semakin meningkat.

Sumber :

Makmun. 2010. Mewaspadai dampak penerbitan Surat Utang Negara 2010. Diakses 18 Mei 2013 melalui : www.unisosdem.org

Wicaksono. 2011. Hati-hati dengan Surat Utang Negara. Diakses 18 Mei 2013 melalui : www.bimosatriwicaksono.wordpress.com

Siahaan, Hinsa. 2010. Analisis Efektifitas dan Efisiensi Penjualan Surat Utang Negara Dalam Pembiayan Defisit APBN 2005-2020 dan Peringkat Kredit Indonesia. Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

www.tempo.co/Pemerintah-Jual-Obligasi-Negara-Rp-105-Triliun.htm

www.kompas.com/penerbitan-surat-utang-negara-untuk-apa-42326.html

www.medanbisnis.com/Penerbitan-SBN-Sesuai-Kebutuhan.htm

www.okezone.com/penerbitan-surat-utang-sudah-capai-rp82-77-t.htm

www.inilah.com/tutupi-defisit-pemerintah-terbitkan-surat-utang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s